SATU PER SATU ANAK TIKUS TERJERAT
Oleh:Dewi Nurita
Sudah
jatuh tertimpa tangga, begitulah kira-kira nasib Partai Demokrat (PD) dalam
beberapa bulan terkahir. “Episode Nazaruddin” yang tak usai-usai, “Andi
Nurpati” yang terus tersudut, Anas urbaningrum,Angelina sondakh,dan kini
giliran Andi malaranggeng,orang nomor satu di KEMENPORA semakin menunjukkan
buruknya tingkah laku para politisinya, menambah daftar panjang sejarah kelam
Partai Pemerintah ini. Dalam Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 Undang-Undang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi(Tipikor),andi terbukti telah melakukan perbuatan
melawan hukum dan penyalahgunaan wewenang yang menguntungkan diri sendiri atau
pihak lain namun justru merugikan keuangan negara,terkait kasus pembuatan wisma
atlet hambalang, proyek pusat pelatihan olahraga di Kementerian Pemuda dan
Olahraga,senilai Rp2,5 triliun. Dengan ancaman hukumannya, paling
lama 20 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar,dan telah
ditetapkan sebagai tersangka pada hari Kamis,( 6 Desember 2012) .
Dalam
pemberitaan sebelumnya, KPK mencegah Andi bepergian ke luar negeri selama enam
bulan,dengan surat permohonan pencegahan
bernomor 4569/01-23/2012 itu sudah dilayangkan ke pihak imigrasi.Selain
Andi, KPK juga meminta pencegahan atas nama dua orang lainnya, yakni Andi
Zulkarnain Mallarangeng (Choel Mallarangeng), dan Muhammad Arief Taufiqurrahman
dari PT Adhi Karya. Dalam kasus Hambalang ini, KPK sebelumnya menetapakan anak
buah Andi, Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kementerian Pemuda dan
Olahraga Deddy Kusdinar sebagai tersangka. Deddy juga diduga menyalahgunakan
kewenangannya. Dan dalam pemeriksaan kasus tersebut para kolega demokrat,seperti
anas,Angelina sondakh serta nazaruddin justru saling tuding dan mambantah telah
melakukan korupsi hambalang,Sebagai kader dalam satu fraksi yang sama (PD) mereka
seharusnya saling mendukung satu sama lain,bukan saling menuding dan
menjatuhkan,inilah salah satu bukti kegagalan komunikasi politik di badan
partai politik tersebut.
Terjeratnya
ketiga kader inti Demokrat ini sudah pasti pula merupakan ‘’pukulan keras” bagi
Partai Demokrat, khususnya jika ada lagi
kader lainnya yang jadi tersangka korupsi. Kabarnya, beberapa nama petinggi
Partai Demokrat sedang masuk dalam bidikan KPK yang artinya, Andi Mallarangeng
belum tersangka terakhir dalam kasus korupsi Hambalang, tapi masih ada yang
akan menyusul. Siapa dia, KPK menunggu nyanyian Andi Mallarangeng atau
sebenarnya sudah ada di kantung KPK??
Terlepas
dari masih ada tersangka baru setelah Andi Mallarangeng atau tidak dari kubu
Demokrat, yang pasti slogan Demokrat yang menyatakan “Tidak pada korupsi”
menjadi terkesan aneh dan lucu. Lalu apa artinya kalimat yang dikatakan andi malaranggeng
setiap mengonfirmasi tentang hambalang, yakni: "Jika ada penyimpangan oleh staf dan pejabat
Kemenpora, siapa pun yang melakukan penyimpangan harus bertanggung jawab secara
hukum,",atau apakah anas sudah siap digantung di monas? Di mata masyarakat, slogan yang
dijadikan ‘’barang dagangan’’ yang laris dijual saat kampanye itu, dinilai
menjadi alat ‘’tipu daya’’ hanya untuk membujuk masyarakat agar memilih
Demokrat saat itu. Buktinya, setelah Demokrat tampil menjadi partai penguasa,
tidak lama berselang, bermunculan kasus korupsi dan seketika itu Nazaruddin hengkang
ke luar negeri dan jadi buronan setelah para petinggi Demokrat menyatakan
Nazaruddin hanya berobat ke Singapura dan hingga saat ini .Setelah menang untuk
kedua kalinya korupsi justru semakin merajalela,semua bualan mereka hanyalah
retorika semata.
Mengingat
andi malaranggeng disebut-sebut sebagai anak emas SBY,lalu sikap apa yang akan
dilakukan SBY melihat kasus ini ??? Saat ini dikabarkan akan melakukan perombakan kabinet/reshuffle
kabinet Indonesia bersatu ke II.Entah apakah itu merupakan langkah
efektif,atau malah justru digantikan oleh kader yang lebih buruk lagi.Nah,kalau
sudah seperti ini,sama saja kita dengan membuang garam di lautan.Korupsi di
Indonesia telah menggerogoti semua cabang kekuasaan,mulai dari jajaran lembaga
eksekutif,legislatif hingga yudikatif,jika tidak segera di tuntaskan hingga ke
akarnya,maka kasus ini akan semakin menggurita. Ibarat mencabut rumput,kita
harus mencabut hingga ke akarnya agar tidak tumbuh rumput yang baru lagi,begitu
pun halnya dengan korupsi Indonesia yang sudah seperti” lingkaran setan”.
Kita
berharap Abraham samad dan tim KPK akan terus menguak korupsi tanpa pandang
bulu dan menangkap hewan–hewan pengerat berdasi sampai tuntas.Seperti yang
diungkapkannya "Kami hanya ingin berbuat untuk masyarakat
luas. Yang dibutuhkan adalah menjalankan amanah,"
dalam memenuhi panggilan Tim
Pengawas DPR untuk Penuntasan Kasus Bank Century pada 20 November 2012 lalu.
Terus memberantas skandal korupsi yang sudah menjadi tradisi dan mendarah
daging bagi politikus Indonesia.Dimana Ranah perpolitikan Indonesia saat ini
tak lagi sebagai media mencapai kemakmuran bangsa,melainkan untuk kemakmuran
“bank saku “para pejabat. Jika kita melihat kondisi politik saat ini,bukan
tidak mungkin tragedy orde baru akan kembali terulang di era reformasi ini. Masyarakat
yang selama ini haus akan perubahan,lama kelamaan akan memberontak.Kalau satu
per satu anak tikus telah terjerat,apakah induknya akan tetap bersembunyi?? Entahlah,kita
hanya bisa menjadi penonton yang baik akan panggung drama perpolitikan bangsa
ini dan mendengarkan retorika tanpa realita.
ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق