ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

الأربعاء، 2 يناير 2013

satu per satu tikus senyan terjerat


SATU PER SATU ANAK TIKUS TERJERAT
Oleh:Dewi Nurita

Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah kira-kira nasib Partai Demokrat (PD) dalam beberapa bulan terkahir. “Episode Nazaruddin” yang tak usai-usai, “Andi Nurpati” yang terus tersudut, Anas urbaningrum,Angelina sondakh,dan kini giliran Andi malaranggeng,orang nomor satu di KEMENPORA semakin menunjukkan buruknya tingkah laku para politisinya, menambah daftar panjang sejarah kelam Partai Pemerintah ini. Dalam Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi(Tipikor),andi terbukti telah melakukan perbuatan melawan hukum dan penyalahgunaan wewenang yang menguntungkan diri sendiri atau pihak lain namun justru merugikan keuangan negara,terkait kasus pembuatan wisma atlet hambalang, proyek pusat pelatihan olahraga di Kementerian Pemuda dan Olahraga,senilai Rp2,5 triliun. Dengan ancaman hukumannya, paling lama 20 tahun penjara dan denda maksimal Rp 1 miliar,dan telah ditetapkan sebagai tersangka pada hari Kamis,( 6 Desember 2012) .
Dalam pemberitaan sebelumnya, KPK mencegah Andi bepergian ke luar negeri selama enam bulan,dengan surat permohonan pencegahan bernomor 4569/01-23/2012 itu sudah dilayangkan ke pihak imigrasi.Selain Andi, KPK juga meminta pencegahan atas nama dua orang lainnya, yakni Andi Zulkarnain Mallarangeng (Choel Mallarangeng), dan Muhammad Arief Taufiqurrahman dari PT Adhi Karya. Dalam kasus Hambalang ini, KPK sebelumnya menetapakan anak buah Andi, Kepala Biro Keuangan dan Rumah Tangga Kementerian Pemuda dan Olahraga Deddy Kusdinar sebagai tersangka. Deddy juga diduga menyalahgunakan kewenangannya. Dan dalam pemeriksaan kasus tersebut para kolega demokrat,seperti anas,Angelina sondakh serta nazaruddin justru saling tuding dan mambantah telah melakukan korupsi hambalang,Sebagai kader dalam satu fraksi yang sama (PD) mereka seharusnya saling mendukung satu sama lain,bukan saling menuding dan menjatuhkan,inilah salah satu bukti kegagalan komunikasi politik di badan partai politik tersebut.


Terjeratnya ketiga kader inti Demokrat ini sudah pasti pula merupakan ‘’pukulan keras” bagi Partai Demokrat,  khususnya jika ada lagi kader lainnya yang jadi tersangka korupsi. Kabarnya, beberapa nama petinggi Partai Demokrat sedang masuk dalam bidikan KPK yang artinya, Andi Mallarangeng belum tersangka terakhir dalam kasus korupsi Hambalang, tapi masih ada yang akan menyusul. Siapa dia, KPK menunggu nyanyian Andi Mallarangeng atau sebenarnya sudah ada di kantung KPK??
Terlepas dari masih ada tersangka baru setelah Andi Mallarangeng atau tidak dari kubu Demokrat, yang pasti slogan Demokrat yang menyatakan “Tidak pada korupsi” menjadi terkesan aneh dan lucu. Lalu apa artinya kalimat yang dikatakan andi malaranggeng setiap mengonfirmasi tentang hambalang, yakni:  "Jika ada penyimpangan oleh staf dan pejabat Kemenpora, siapa pun yang melakukan penyimpangan harus bertanggung jawab secara hukum,",atau apakah anas sudah siap digantung di monas?  Di mata masyarakat, slogan yang dijadikan ‘’barang dagangan’’ yang laris dijual saat kampanye itu, dinilai menjadi alat ‘’tipu daya’’ hanya untuk membujuk masyarakat agar memilih Demokrat saat itu. Buktinya, setelah Demokrat tampil menjadi partai penguasa, tidak lama berselang, bermunculan kasus korupsi dan seketika itu Nazaruddin hengkang ke luar negeri dan jadi buronan setelah para petinggi Demokrat menyatakan Nazaruddin hanya berobat ke Singapura dan hingga saat ini .Setelah menang untuk kedua kalinya korupsi justru semakin merajalela,semua bualan mereka hanyalah retorika semata.
Mengingat andi malaranggeng disebut-sebut sebagai anak emas SBY,lalu sikap apa yang akan dilakukan SBY melihat kasus ini ??? Saat ini  dikabarkan akan melakukan perombakan kabinet/reshuffle kabinet Indonesia bersatu ke II.Entah apakah itu merupakan langkah efektif,atau malah justru digantikan oleh kader yang lebih buruk lagi.Nah,kalau sudah seperti ini,sama saja kita dengan membuang garam di lautan.Korupsi di Indonesia telah menggerogoti semua cabang kekuasaan,mulai dari jajaran lembaga eksekutif,legislatif hingga yudikatif,jika tidak segera di tuntaskan hingga ke akarnya,maka kasus ini akan semakin menggurita. Ibarat mencabut rumput,kita harus mencabut hingga ke akarnya agar tidak tumbuh rumput yang baru lagi,begitu pun halnya dengan korupsi Indonesia yang sudah seperti” lingkaran setan”.

Kita berharap Abraham samad dan tim KPK akan terus menguak korupsi tanpa pandang bulu dan menangkap hewan–hewan pengerat berdasi sampai tuntas.Seperti yang diungkapkannya "Kami hanya ingin berbuat untuk masyarakat luas. Yang dibutuhkan adalah menjalankan amanah," dalam memenuhi panggilan Tim Pengawas DPR untuk Penuntasan Kasus Bank Century pada 20 November 2012 lalu. Terus memberantas skandal korupsi yang sudah menjadi tradisi dan mendarah daging bagi politikus Indonesia.Dimana Ranah perpolitikan Indonesia saat ini tak lagi sebagai media mencapai kemakmuran bangsa,melainkan untuk kemakmuran “bank saku “para pejabat. Jika kita melihat kondisi politik saat ini,bukan tidak mungkin tragedy orde baru akan kembali terulang di era reformasi ini. Masyarakat yang selama ini haus akan perubahan,lama kelamaan akan memberontak.Kalau satu per satu anak tikus telah terjerat,apakah induknya akan tetap bersembunyi?? Entahlah,kita hanya bisa menjadi penonton yang baik akan panggung drama perpolitikan bangsa ini dan mendengarkan retorika tanpa realita.

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق