PROGRAM
KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PKM:
”SOSIOLOGI DALAM MENCEGAH KENAKALAN REMAJA “
BIDANG KEGIATAN:
PKM-GT(GAGASAN TERTULIS)
DIUSULKAN
OLEH :
KELOMPOK
1(EKSTENSI A)
DOSEN PEMBIMBING :HODRIANI,S.Sos,M.Si

FAKULTAS
ILMU SOSIAL
PPKN 2012/2013
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
A. JUDUL
Sosiologi dalam mencegah kenakalan
remaja
B. LATAR BELAKANG
Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada
usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21
tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada
rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa
dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja
sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang
diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Pernyataan ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Masa remaja adalah suatu tahap antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-18 tahun (Muchtaromah, 2008) Remaja merupakan fase kehidupan manusia dengan karakter khasnya yang penuh gejolak. Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak, tetapi tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua sehingga masa remaja cenderung diartikan sebagai masa transisi atau peralihan. Transisi ke masa dewasa, bervariasi dari satu budaya kebudayaan lain, namun secara umum didefinisikan sebagai periode dimana individu mulai bertindak terlepas dari orang tua mereka.
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Pernyataan ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Masa remaja adalah suatu tahap antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-18 tahun (Muchtaromah, 2008) Remaja merupakan fase kehidupan manusia dengan karakter khasnya yang penuh gejolak. Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak, tetapi tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua sehingga masa remaja cenderung diartikan sebagai masa transisi atau peralihan. Transisi ke masa dewasa, bervariasi dari satu budaya kebudayaan lain, namun secara umum didefinisikan sebagai periode dimana individu mulai bertindak terlepas dari orang tua mereka.
Dalam menghadapi remaja ada beberapa hal
yang harus selalu di ingat, yaitu bahwa jiwa remaja adalah jiwa yang penuh
gejolak (strum und drang) dan bahwa lingkungan sosial remaja juga ditandai
dengan perubahan sosial yang cepat (khususnya di kota-kota besar dan
daerah-daerah yang sudah terjangkau sarana dan prasarana komunikasi dan perhubungan)
yang mengakibatkan kesimpangsiuran norma (keadaan anomie). Kondisi intern dan
ekstern yang sama-sama bergejolak inilah yang menyebabkan masa remaja memang
lebih rawan daripada tahap-tahap lainnya dalam perkembangan jiwa remaja.
Salah satu contoh masalah remaja yang disebabkan oleh kondisi intern dan ekstern yang bergejolak adalah penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Total jumlah kasus penyalahgunaan narkoba siswa SMP dan SMA di Indonesia sampai dengan tahun 2008 tercatat 110.627 kasus, sementara di tahun 2007 tercatat 110.970 dan tahun 2006 sebanyak 73.253. Dan masih banyak contoh permasalahan lain yang dihadapi remaja baik dari lingkungan luar atau sosial maupun dari dalam dirinya sendiri.
Melalui karya tulis ini kami akan mengemukakan gagasan kami secara tertulis, bagaimana mengatasi konflik yang berasal dari diri remaja maupun dari luar diri remaja agar pada bertumbuh dan berkembang dengan baik.
Salah satu contoh masalah remaja yang disebabkan oleh kondisi intern dan ekstern yang bergejolak adalah penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Total jumlah kasus penyalahgunaan narkoba siswa SMP dan SMA di Indonesia sampai dengan tahun 2008 tercatat 110.627 kasus, sementara di tahun 2007 tercatat 110.970 dan tahun 2006 sebanyak 73.253. Dan masih banyak contoh permasalahan lain yang dihadapi remaja baik dari lingkungan luar atau sosial maupun dari dalam dirinya sendiri.
Melalui karya tulis ini kami akan mengemukakan gagasan kami secara tertulis, bagaimana mengatasi konflik yang berasal dari diri remaja maupun dari luar diri remaja agar pada bertumbuh dan berkembang dengan baik.
C. RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa remaja identik dengan kenakalan?
2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan banyaknya kenakalan pada usia remaja?
3. Bagaimana mengatasi kenakaln remaja?
2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan banyaknya kenakalan pada usia remaja?
3. Bagaimana mengatasi kenakaln remaja?
D. TUJUAN PROGRAM
1. Untuk
mengetahui mengapa masa remaja identik dengan kenakalan
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kenakalan remaja
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kenakalan remaja
3. Untuk mengetahui bagaimana mengatasi kenakalan
remaja
e.LUARAN YANG DIHARAPKAN
1. Bagi penulis
Berdasarkan hasil studi pustaka dan analisis, penulis dapat mengetahui perkembangan dunia remaja dan permasalahan-permasalahan yang timbul pada usia remaja
2. Bagi para remaja
Dapat mengetahui cara mengatasi masalahnya dan dapat mengontrol diri agar dapat berkembang dengan baik.
3. Bagi Orangtua dan masyarakat
Memberikan wawasan tentang perkembangan dunia remaja dalam kehidupan sehari-hari sehingga remaja tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak benar.
4. Bagi Pemerintah
Dapat dijadikan referensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dan menjadi bahan pertimbangan keputusan untuk membuat kurikulum tambahan tentang fenomena kenakalan remaja demi terciptanya remaja yang unggul.
Berdasarkan hasil studi pustaka dan analisis, penulis dapat mengetahui perkembangan dunia remaja dan permasalahan-permasalahan yang timbul pada usia remaja
2. Bagi para remaja
Dapat mengetahui cara mengatasi masalahnya dan dapat mengontrol diri agar dapat berkembang dengan baik.
3. Bagi Orangtua dan masyarakat
Memberikan wawasan tentang perkembangan dunia remaja dalam kehidupan sehari-hari sehingga remaja tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak benar.
4. Bagi Pemerintah
Dapat dijadikan referensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dan menjadi bahan pertimbangan keputusan untuk membuat kurikulum tambahan tentang fenomena kenakalan remaja demi terciptanya remaja yang unggul.
e.GAMBARAN
UMUM MASYARAKAT SASARAN
Setiap periode
mempunyai masalah sendiri-sendiri, namum masalah masa remaja sering menjadi
masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan.
Terdapat dua alasan bagi kesulitan itu, yaitu pertama, sepanjang masaa
kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan
guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi
masalah. Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri, sehingga mereka ingin
mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru. Karena
ketidakmampuan mengatasi masalahnya sendiri menurut cara yang mereka yakini,
banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesaiannya tidak selalu sesuai
dengan harapan mereka. Sebab-sebab lainnya yang menimbulkan remaja bermasalah
adalah sifat emosional remaja awal. Kemampuan di kuasai oleh emosionalitasnya
sehingga kurang mampu mengadakan consensus atau kesepakatan dengan pendapat
orang lain yang bertentangan dengan pendapatnya, sehingga masalah yang timbul
adakan pertentangan sosial.
Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.
Masa remaja juga dapat disebut masa yang tidak realistik maksudnya adalah bahwa remaja cenderung melihat segala sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan, tidak sebagaimana adanya. Remaja ingin orangtuanya, sahabatnya, gurunya, pacarnya, dan semua yang berhubungan dengan dirinya berjalan sesuai dengan apa yang di inginkannya. Akibatnya, manakala apa yang diinginkan itu tidak menjadi kenyataan atau malah menjadi yang terbalik, ia pun mudah kecewa dan terbawa emosi. Respon remaja saat menghadapi kenyaaan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan inilah yang menambah iventarisasi masalah dari sekian banyak permasalahan tentang remaja.
Adapun masalah yang dihadapi remaja masa kini antara lain :
a. Kebutuhan akan figur teladan
Remaja jauh lebih mudah terkesan akan nilai2 luhur yang berlangsung dari keteladanan orang tua mereka daripada hanya sekedar nasihat2 bagus yagn tinggal hanya kata2 indah.
b. Sikap apatis
Sikap apatis meruapakan kecenderungan untuk menolak sesuatu dan pada saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi di masyarakatnya.
c. Kecemasan dan kurangnya harga diri
Kata stess atau frustasi semakin umum dipakai kalangan remaja. Banyak kaum muda yang mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya).
d. Ketidakmampuan untuk terlibat
Kecenderungan untuk mengintelektualkan segala sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para remaja sulit melibatkan diri secara emosional maupun efektif dalam hubungan pribadi dan dalam kehidupan di masyarakat. Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau malahan dengan uang.
e. Perasaan tidak berdaya
Perasaan tidak berdaya ini muncul pertama-tama karena teknologi semakin menguasai gaya hidup dan pola berpikir masyarakat modern. Teknologi mau tidak mau menciptakan masyarakat teknokratis yang memaksa kita untuk pertama-tama berpikir tentang keselamatan diri kita di tengah2 masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan pintas”, misalnya menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat nilai baik atau ijasah.
f. Pemujaan akan pengalaman
sebagian besar tindakan-tindakan negatif anak muda dengan minumam keras, obat-obatan dan seks pada mulanya berawal dari hanya mencoba-coba. Lingkungan pergaulan anak muda dewasa ini memberikan pandangan yagn keliru tentang pengalaman.
Bentuk-bentuk dari perbuatan yang anti sosial antara lain :
a. Anak-anak muda yang berasal dari golongan orang kaya yang biasanya memakai pakaian yang mewah, hidup hura-hura dengan pergi ke diskotik merupakan gaya hidup mewah yang tidak selaras dengan kebiasaan adat timur.
b. Di sekolah, misalnya dengan melanggar tata tertib sekolah seperti bolos, terlambat masuk kelas, tidak mengerjakan tugas dan lain sebagainya.
c. Ngebut, yaitu mengendarai mobil atau motor ditengah-tengah keramaian kota dengan kecepatan yang melampaui batas maksimum yang dilakukan oleh para pemuda belasan tahun.
d. Membentuk kelompokanak muda yang tingkah lakunya sangant menyimpang dengan norma yang berlaku di masyarakat, seperti tawuran antar kelompok.
Faktor-faktor yang Menyebabkan Banyaknya Masalah pada Usia Remaja:
Munculnya permasalahan-permasalahan pada usia remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
1. Krisis Identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
2. Kontrol Diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
1. Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teman sebaya yang kurang baik
3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
Karakter remaja yang labil dan lingkungannya menyebabkan timbulnya penyimpangan perilaku yang juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan psikologis remaja. Penyimpangan perilaku remaja yang menyebabkan timbulnya masalah pada usia remaja juga terjadi karena interaksi faktor-faktor:
• Predisposisi (kepribadian, kecemasan dan depresi): Kepribadian yang tidak mantap. Ciri kepribadian: gampang kecewa, jadi agresif dan destruktif, rasa rendah diri, senang mencari sensasi, cepat bosan, merasa tertekan, murung dan merasa tidak mampu menjalankan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.
• Kontribusi (keluarga):. Keluarga yang disfungsi sosial ditandai dengan: kesibukan orang tua, hubungan interpersonal yang kurang baik, parental modeling (yang kurang baik).
• Pencetus (kelompok teman sebaya dan zat itu sendiri): Bila remaja khawatir ditolak bergabung dengan kelompok, maka remaja akam berperilaku sesuai dengan perilaku kelompoknya termasuk penggunaan narkoba.
Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.
Masa remaja juga dapat disebut masa yang tidak realistik maksudnya adalah bahwa remaja cenderung melihat segala sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan, tidak sebagaimana adanya. Remaja ingin orangtuanya, sahabatnya, gurunya, pacarnya, dan semua yang berhubungan dengan dirinya berjalan sesuai dengan apa yang di inginkannya. Akibatnya, manakala apa yang diinginkan itu tidak menjadi kenyataan atau malah menjadi yang terbalik, ia pun mudah kecewa dan terbawa emosi. Respon remaja saat menghadapi kenyaaan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan inilah yang menambah iventarisasi masalah dari sekian banyak permasalahan tentang remaja.
Adapun masalah yang dihadapi remaja masa kini antara lain :
a. Kebutuhan akan figur teladan
Remaja jauh lebih mudah terkesan akan nilai2 luhur yang berlangsung dari keteladanan orang tua mereka daripada hanya sekedar nasihat2 bagus yagn tinggal hanya kata2 indah.
b. Sikap apatis
Sikap apatis meruapakan kecenderungan untuk menolak sesuatu dan pada saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi di masyarakatnya.
c. Kecemasan dan kurangnya harga diri
Kata stess atau frustasi semakin umum dipakai kalangan remaja. Banyak kaum muda yang mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya).
d. Ketidakmampuan untuk terlibat
Kecenderungan untuk mengintelektualkan segala sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para remaja sulit melibatkan diri secara emosional maupun efektif dalam hubungan pribadi dan dalam kehidupan di masyarakat. Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau malahan dengan uang.
e. Perasaan tidak berdaya
Perasaan tidak berdaya ini muncul pertama-tama karena teknologi semakin menguasai gaya hidup dan pola berpikir masyarakat modern. Teknologi mau tidak mau menciptakan masyarakat teknokratis yang memaksa kita untuk pertama-tama berpikir tentang keselamatan diri kita di tengah2 masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan pintas”, misalnya menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat nilai baik atau ijasah.
f. Pemujaan akan pengalaman
sebagian besar tindakan-tindakan negatif anak muda dengan minumam keras, obat-obatan dan seks pada mulanya berawal dari hanya mencoba-coba. Lingkungan pergaulan anak muda dewasa ini memberikan pandangan yagn keliru tentang pengalaman.
Bentuk-bentuk dari perbuatan yang anti sosial antara lain :
a. Anak-anak muda yang berasal dari golongan orang kaya yang biasanya memakai pakaian yang mewah, hidup hura-hura dengan pergi ke diskotik merupakan gaya hidup mewah yang tidak selaras dengan kebiasaan adat timur.
b. Di sekolah, misalnya dengan melanggar tata tertib sekolah seperti bolos, terlambat masuk kelas, tidak mengerjakan tugas dan lain sebagainya.
c. Ngebut, yaitu mengendarai mobil atau motor ditengah-tengah keramaian kota dengan kecepatan yang melampaui batas maksimum yang dilakukan oleh para pemuda belasan tahun.
d. Membentuk kelompokanak muda yang tingkah lakunya sangant menyimpang dengan norma yang berlaku di masyarakat, seperti tawuran antar kelompok.
Faktor-faktor yang Menyebabkan Banyaknya Masalah pada Usia Remaja:
Munculnya permasalahan-permasalahan pada usia remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
1. Krisis Identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
2. Kontrol Diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
1. Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teman sebaya yang kurang baik
3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
Karakter remaja yang labil dan lingkungannya menyebabkan timbulnya penyimpangan perilaku yang juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan psikologis remaja. Penyimpangan perilaku remaja yang menyebabkan timbulnya masalah pada usia remaja juga terjadi karena interaksi faktor-faktor:
• Predisposisi (kepribadian, kecemasan dan depresi): Kepribadian yang tidak mantap. Ciri kepribadian: gampang kecewa, jadi agresif dan destruktif, rasa rendah diri, senang mencari sensasi, cepat bosan, merasa tertekan, murung dan merasa tidak mampu menjalankan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.
• Kontribusi (keluarga):. Keluarga yang disfungsi sosial ditandai dengan: kesibukan orang tua, hubungan interpersonal yang kurang baik, parental modeling (yang kurang baik).
• Pencetus (kelompok teman sebaya dan zat itu sendiri): Bila remaja khawatir ditolak bergabung dengan kelompok, maka remaja akam berperilaku sesuai dengan perilaku kelompoknya termasuk penggunaan narkoba.
F.METODE PELAKSANAAN PROGRAM
Kenakalan anak dan remaja merupakan hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam upaya pemecahannya. Tidak mudah untuk mendekati mereka tanpa memahami siapa mereka dan dalam kondisi apa. Jones dan Pritchard (1985) mengemukakan lima model pendekatan untuk memahami remaja, yaitu :
Kenakalan anak dan remaja merupakan hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam upaya pemecahannya. Tidak mudah untuk mendekati mereka tanpa memahami siapa mereka dan dalam kondisi apa. Jones dan Pritchard (1985) mengemukakan lima model pendekatan untuk memahami remaja, yaitu :
1.
Model Konstitusi (Constitutional Model)
Model ini memahami remaja dari perkembangan biologis
dan fisiologis. Perkembangan fisik dan biologis yang terlalu dini atau terlalu
lambat dapat menimbulkan masalah bagi remaja, terutama dalam menyesuaikan
dirinya dengan lingkungan. Misalnya anak perempuan terlalu cepat mengalami
menstruasi dan mengalami pembesaran buah dada, atau sebaliknya terlambat (sudah
lewat masa remaja) belum mengalami masa menstruasi dan buah dadanya masih belum
muncul. Hal ini dapat menimbulkan kepanikan, rendah diri, yang akhirnya
sulit berkomunikasi dan tidak dapat menyesuaikan dengan lingkungan.
Demikian pula dengan perkembangan biologis dan fisiologis anak laki-laki,
misalnya mimpi basah, tumbuh bulu dan lain-lain. Peran orang
tua dalam hal ini sangat penting untuk membimbing mempersiapkan berbagai
kemungkinan menghadapi perkembangan biologis dan fisiologis. Untuk mencegah
hal-hal yang dapat menjurus kepada kenakalan remaja.
2. Model Krisis Identitas (Identity
Crises Model)
Model ini memahami remaja berdasarkan pemahaman
remaja terhadap identitas dan konsep dirinya. Memandang remaja mengalami krisis
identitas, belum memiliki kejelasan tentang siapa dirinya, apa potensinya dan
apa kekurangannya. Berdasarkan model ini, remaja harus dibantu untuk menjawab
pertanyaan siapa saya?, sehingga memperoleh kejelasan tentang konsep diri dan
identitas dirinya. Bila tidak, remaja akan mengidentifikasi dan melakukan
imitasi identitas orang lain, terutama tokoh idolanya sebagai dirinya. Masalah
muncul bila tokoh yang menjadi idolanya adalah tokoh mafia, yang sering
digambarkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Bisa-bisa remaja itu ikut
melakukan hal-hal yang tidak baik, seperti berkelahi karena merasa kuat dan
hebat seperti tokoh yang diidolakannya. Dalam hal ini peran orang
tua dan para profesional yang berkepentingan mempunyai tanggung
jawab untuk membantu remaja agar memiliki kejelasan terhadap identitas dan
konsep dirinya. Dengan demikian,remaja dapat menemukan identitas mereka tanpa
harus mendekati kenakalan remaja
3.
Model Kebutuhan (Need Model)
Mengacu
pada teori kebutuhan untuk memahami remaja. Menurut teori kebutuhan Maslow
(1970), bila kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman terpenuhi, maka
pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lainnya tidak akan banyak menemukan kesulitan
yang berarti. Kedua kebutuhan tersebut sangat berpengaruh pada pemenuhan
kebutuhan-kebutuhan remaja yang lainnya. Remaja sering menampilkan perilaku
kasar bila perutnya lapar, kurang tidur an perasaannya tidak aman. Dalam hal
iniorang tua sangat berperanan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan
fisiologis dan rasa aman remaja.
4.
Model Belajar Sosial (Social Learning Model)
Memandang bahwa remaja sangat sensitive atas
model-model perilaku di lingkungannya. Bandura (1970) mengemukakan sebuah teori
bahwa apabila seseorang terekspos pada satu model perilaku,
kemudianexposure tersebut terjadi berulang-ulang (repetition), maka akan
terjadiretention (penyimpanan dalam long-term memory). Bila ini terjadi,
maka seseorang tersebut akan mengikuti model perilaku
tersebut. Exposure ini biasanya dialami remaja dari media massa
terutama televisi atau dari lingkungan sebayanya. Bila model perilaku yang
menempa remaja tersebut ternyata dianggap cocok, maka remaja akan mengikuti
model perilaku tersebut. Selain itu, pada saat berkumpul dengan
lingkungan kelompoknya, biasanya mereka berperilaku sama, yang sebenarnya
merupakan hasil belajar sosial. Masalah muncul apabila model perilaku yang
mengeksposnya adalah model perilaku negatif atau menyimpang. Orang
tua dan para profesional yang berkepentingan juga mempunyai
tanggung jawab dalam hal mencegah tereksposnya remaja pada model-model perilaku
negatif atau menyimpang, atau mempersiapkan remaja agar memiliki ketahanan
dalam menghadapi pengaruh model-model perilaku tersebut.
5.
Model Stress (Stress Model)
Memandang bahwa setiap orang pasti mengalami stress
pada suatu saat. Kemampuan mengatasi stress (Coping Ability) sangat berperanan.
Stress yang tidak teratasi akan mengakibatkan kecemasan, baik kecemasan ringan,
seperti berkeringat, sampai kecemasan berat seperti psikosomatis. Daya
untuk mengatasi atau mengelola stress pada diri remaja perlu dikembangkan.
Banyak kasus-kasus kenakalan remaja disebabkan oleh stress dan rendahnya kemampuan
untuk mengatasi. Pelatihan-pelatihan untuk mengatasi stress dapat membantu para
remaja mengembangkancoping ability.
Beberapa
masalah remaja perlu ditangani secara khusus dengan metode yang khusus pula.
Metode mendidik remaja adalah dengan:
1. Mengembangkan potensi remaja
2. Memandirikan remaja
3. Memberikan kemampuan untuk beradaptasi dan berperilaku yang diperlukan remaja dalam mengatasi tantangan dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Atas dasar metode ini, dalam menangani permasalahan remaja, perlu dikembangkan pola pendidikan yang berorientasi pada kesehatan psikososial remaja. Kompetensi psikososial adalah seluruh kemampuan yang berorientasi pada aspek kejiwaan seseorang terhadap diri sendiri dan interaksinya dengan orang lain serta lingkungan sekitarnya dalam konteks kesehatan. Kompetensi psikososial tersebut antara lain :
1. Empati, yaitu kemampuan untuk memposisikan perasaan orang lain pada diri sendiri.
2. Kesadaran diri, adalah kemampuan untuk mengenal diri sendiri tentang karakter, kekuatan, kelemahan, keinginan dan tidak keinginan
3. Pengambilan keputusan, adalah kemampuan yang dapat membantu kita untuk mengambil keputusan secara konstruktif dengan membandingkan pilihan alternatif dan efek samping yang menyertainya.
4. Pemecahan masalah, adalah kemampuan untuk memungkinkan kita dapat menyelesaikan masalah secara konstruktif.
5. Berpikir kreatif, yaitu kemampuan unuk menggali alternatif yang ada dan berbagai konsekuensinya dari apa yang kita lakukan.
1. Mengembangkan potensi remaja
2. Memandirikan remaja
3. Memberikan kemampuan untuk beradaptasi dan berperilaku yang diperlukan remaja dalam mengatasi tantangan dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Atas dasar metode ini, dalam menangani permasalahan remaja, perlu dikembangkan pola pendidikan yang berorientasi pada kesehatan psikososial remaja. Kompetensi psikososial adalah seluruh kemampuan yang berorientasi pada aspek kejiwaan seseorang terhadap diri sendiri dan interaksinya dengan orang lain serta lingkungan sekitarnya dalam konteks kesehatan. Kompetensi psikososial tersebut antara lain :
1. Empati, yaitu kemampuan untuk memposisikan perasaan orang lain pada diri sendiri.
2. Kesadaran diri, adalah kemampuan untuk mengenal diri sendiri tentang karakter, kekuatan, kelemahan, keinginan dan tidak keinginan
3. Pengambilan keputusan, adalah kemampuan yang dapat membantu kita untuk mengambil keputusan secara konstruktif dengan membandingkan pilihan alternatif dan efek samping yang menyertainya.
4. Pemecahan masalah, adalah kemampuan untuk memungkinkan kita dapat menyelesaikan masalah secara konstruktif.
5. Berpikir kreatif, yaitu kemampuan unuk menggali alternatif yang ada dan berbagai konsekuensinya dari apa yang kita lakukan.
6. Berpikir
kritis, yaitu kemampuan menganalisa informasi dan pengalaman-pengalaman secara
objektif.
7. Komunikasi efektif, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri secara verbal maupun non verbal yang mengikuti budaya dan situasi
8. Hubungan interpersonal, yaitu kemampuan yang dapat menolong kita beroteraksi dengan sesama secara positif dan harmonis.
9. Mengatasi emosi, yaitu kemampuan keterlibatan pengenalan emosi dalam diri sendiri dan orang lain.
10. Mengatasi stres, yaitu kemampuan pengenalan sumber-sumber yang menyebabkan stres dalam kehidupan, bagaimana efeknya dan cara mengontrol terhadap derajat stres. keterampilan hidup sehat pada remaja dilakukan dengan:
Penerapan kompetisi psikososial dalam memberikan pendidikan keterampilan hidup sehat pada remaja dilakukan dengan:
7. Komunikasi efektif, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri secara verbal maupun non verbal yang mengikuti budaya dan situasi
8. Hubungan interpersonal, yaitu kemampuan yang dapat menolong kita beroteraksi dengan sesama secara positif dan harmonis.
9. Mengatasi emosi, yaitu kemampuan keterlibatan pengenalan emosi dalam diri sendiri dan orang lain.
10. Mengatasi stres, yaitu kemampuan pengenalan sumber-sumber yang menyebabkan stres dalam kehidupan, bagaimana efeknya dan cara mengontrol terhadap derajat stres. keterampilan hidup sehat pada remaja dilakukan dengan:
Penerapan kompetisi psikososial dalam memberikan pendidikan keterampilan hidup sehat pada remaja dilakukan dengan:
Materi kesehatan Psikologis dan Sosial :
• Psikologi remaja
• Bahaya narkoba ditinjau dari aspek hukum dan psikososial
• Pemahaman diri
• Kepribadian dan konsep diri
• Permasalahan yang biasa dialami remaja
• Teknik konseling/terapi psikologis
• Mengatur waktu
• Pergaulan sehat
Metode yang digunakan dalam memperingan penyelesaian masalah remaja antara lain dengan :
• Ceramah
• Curah pendapat
• Diskusi kelompok
• Debat
• Bermain peran
• Simulasi
• Psikologi remaja
• Bahaya narkoba ditinjau dari aspek hukum dan psikososial
• Pemahaman diri
• Kepribadian dan konsep diri
• Permasalahan yang biasa dialami remaja
• Teknik konseling/terapi psikologis
• Mengatur waktu
• Pergaulan sehat
Metode yang digunakan dalam memperingan penyelesaian masalah remaja antara lain dengan :
• Ceramah
• Curah pendapat
• Diskusi kelompok
• Debat
• Bermain peran
• Simulasi
Upaya yang dilakukan lingkungan pendidikan dalam mengatasi
permasalahan remaja adalah dengan ditetapkan dan dilaksanakannya beberapa
kebijakan sebagai berikut:
• Menetapkan sekolah sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR) melalui Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 4/U/1997
• Peningkatan penanggulangan penyalahgunaan narkoba di kalangan ysiswa dan mahasiswa dilakukan oleh kepala sekolah/rektor dengan cara mencegah melalui berbagai aktifitas dan kreativitas siswa
• Pemberian materi bahaya penyalahgunaan narkoba pada setiap penataran/pelatihan guru mata pelajaran apapun di tingkat SMP/SMA
• Sekolah diharapkan dapat melakukan berbagai kegiatan ekstrakurikuler untuk menghindarkan siswa dari perilaku menyimpang.
• Mengembangkan program life skills education, atau keterampilan psikososial untuk mencegah penyalahgunaan narkoba. Pengembangan perilaku hidup sehat, sikap asertif, kemampuan membuat keputusan, berpikir kritis, perlu dimiliki oleh peserta didik.
• Menghimbau kepada seluruh sekolah/perguruan tinggi untuk melaksanakan upaya-upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dan seks karena Setiap tahun di dunia ini kira-kira 15 juta remaja berusia 15 – 19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta terinfeksi Penyakit Menular Seksual yang bisa disembuhkan. Perkiraan terakhir, setiap hari ada 7.000 remaja terinfeksi HIV.
• Menetapkan sekolah sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR) melalui Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 4/U/1997
• Peningkatan penanggulangan penyalahgunaan narkoba di kalangan ysiswa dan mahasiswa dilakukan oleh kepala sekolah/rektor dengan cara mencegah melalui berbagai aktifitas dan kreativitas siswa
• Pemberian materi bahaya penyalahgunaan narkoba pada setiap penataran/pelatihan guru mata pelajaran apapun di tingkat SMP/SMA
• Sekolah diharapkan dapat melakukan berbagai kegiatan ekstrakurikuler untuk menghindarkan siswa dari perilaku menyimpang.
• Mengembangkan program life skills education, atau keterampilan psikososial untuk mencegah penyalahgunaan narkoba. Pengembangan perilaku hidup sehat, sikap asertif, kemampuan membuat keputusan, berpikir kritis, perlu dimiliki oleh peserta didik.
• Menghimbau kepada seluruh sekolah/perguruan tinggi untuk melaksanakan upaya-upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dan seks karena Setiap tahun di dunia ini kira-kira 15 juta remaja berusia 15 – 19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta terinfeksi Penyakit Menular Seksual yang bisa disembuhkan. Perkiraan terakhir, setiap hari ada 7.000 remaja terinfeksi HIV.
G.PENUTUP
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Masa remaja adalah masa yang sulit. Remaja mengalami kesulitan dengan dirinya sendiri, dan mereka juga mengalami kesulitan dengan orangtua. Mereka mengalami kesulitan dengan guru, dan mereka juga mengalami kesulitan dengan orang dewasa lainnya, yang tugasnya adalah melatih, mendidik, membimbing serta mengarahkan mereka Remaja cenderung berenerji tinggi, tidak stabil, senantiasa berubah, mengukur segalanya dengan ukuran diri sendiri. Tidak logis dan umumnya mempunyai perangai berontak. Maka dari itu dapat dikatakan masa remaja sebagai usia yang bermasalah.
2. Munculnya permasalahan-permasalahan pada usia remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
3. Cara mengatasi masalah-masalah yang timbul pada usia remaja
• Memahami sikap dan tingkah laku remaja dan menghadapinya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.
• Memberikan perhatian yang cukup baik dalam segi material, emosional, intelektual, dan sosial.
• Memberikan kebebasan dan keteraturan serta secara bersamaan pengarahan terhadap sikap, perasaan dan pendapat remaja
• Menciptakan suasana rumah tangga/keluarga yang harmonis, intim, dan penuh kehangatan bagi remaja.
• Memberikan penghargaan yang layak terhadap pendapat dan prestasi yang baik.
• Memberikan teladan yang baik kepada remaja tentang apa yang baik bagi remaja.
• Tidak mengharapkan remaja melakukan sesuatu yang ia tidak mampu atau orang tua tidak melaksanakannya (panutan dan keteladanan).
Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Masa remaja adalah masa yang sulit. Remaja mengalami kesulitan dengan dirinya sendiri, dan mereka juga mengalami kesulitan dengan orangtua. Mereka mengalami kesulitan dengan guru, dan mereka juga mengalami kesulitan dengan orang dewasa lainnya, yang tugasnya adalah melatih, mendidik, membimbing serta mengarahkan mereka Remaja cenderung berenerji tinggi, tidak stabil, senantiasa berubah, mengukur segalanya dengan ukuran diri sendiri. Tidak logis dan umumnya mempunyai perangai berontak. Maka dari itu dapat dikatakan masa remaja sebagai usia yang bermasalah.
2. Munculnya permasalahan-permasalahan pada usia remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
3. Cara mengatasi masalah-masalah yang timbul pada usia remaja
• Memahami sikap dan tingkah laku remaja dan menghadapinya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.
• Memberikan perhatian yang cukup baik dalam segi material, emosional, intelektual, dan sosial.
• Memberikan kebebasan dan keteraturan serta secara bersamaan pengarahan terhadap sikap, perasaan dan pendapat remaja
• Menciptakan suasana rumah tangga/keluarga yang harmonis, intim, dan penuh kehangatan bagi remaja.
• Memberikan penghargaan yang layak terhadap pendapat dan prestasi yang baik.
• Memberikan teladan yang baik kepada remaja tentang apa yang baik bagi remaja.
• Tidak mengharapkan remaja melakukan sesuatu yang ia tidak mampu atau orang tua tidak melaksanakannya (panutan dan keteladanan).
ليست هناك تعليقات:
إرسال تعليق