ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

ketika tawa meleburkan semua duka

الأربعاء، 1 أكتوبر 2014

Drama Pak Beye !

REP | 01 October 2014 | 14:43 Dibaca: 10 Komentar: 0 0 Presiden SBY akan mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti UU (PERPU) Pilkada Langsung (detik, 30/09/2014). Keputusan Mr. President ini untuk mengeluarkan Perpu jelas hanya sia-sia belaka, karena pastinya akan mendapat penolakan terutama dari Koalisi Merah Putih, yang untuk saat ini menguasai Parlemen. Masalah lain adalah, Perpu harus mendapat persetujuan DPR. Hal ini merujuk pada ketentuan Pasal 22 ayat (1) UUD 1945. Ketentuan ini menyatakan bahwa Presiden berhak menetapkan Perpu jika hal ikhwal kepentingan yang memaksa. Dalam ayat 2 dinyataka Perpu itu harus mendapat persetujuan DPR dalam persidangan berikut. Jika Perpu tersebut tidak mendapat persetujuan, maka Perpu itu harus dicabut. Drama apalagi ini? sepertinya dunia politik saat ini dipenuhi oleh aktor-aktor politik yang biasa bermain peran dalam drama. Sudahlah, jangan membuat rakyat bingung. Sepertinya mereka-mereka yang di senayan sudah membuat marwah politik menjadi profan. Dipenuhi oleh episode-episode yang hanya memikirkan kepentingan-kepentingan “elite”. Kalian berbicara “atas nama rakyat” tapi kalian berbuat “atas nama elit”. cukup berjalan saja yang menggunakan dua kaki, jangan gunakan politik dua kaki untuk sebuah pencitraan. Lihatlah kami rakyat jelata ini. atau haruskah kami menyembah bahwa yang kami butuhkan hanya sembako yang murah, BBM bersubsidi, dan wakil rakyat yang nerakyat. jangan buat kami bingung dengan permainan politik yang hanya memenangkan orang-orang yang berkuasa, smentara kami tetap menjadi pelengkap derita..

السبت، 27 أبريل 2013

tikus



PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

JUDUL PKM:
”SOSIOLOGI DALAM MENCEGAH KENAKALAN REMAJA            “
BIDANG KEGIATAN:
PKM-GT(GAGASAN TERTULIS)

DIUSULKAN OLEH :
KELOMPOK 1(EKSTENSI A)
*   AHMAD ARFAH FANSURY                :      3123311002
*   AHMAD FAISAL                               :      3123311003
*   AHMAD SHOLEH                             :      3123311004
*   BERMA M SIAGIAN                         :      3123311006
*   DESI PURWASI                              :      3123311008
*   DEWI NURITA                                 :      3123311010

DOSEN PEMBIMBING :HODRIANI,S.Sos,M.Si
UNIMED
FAKULTAS ILMU SOSIAL
PPKN 2012/2013
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

A. JUDUL

Sosiologi dalam mencegah kenakalan remaja

B.  LATAR BELAKANG

        Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Pernyataan ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
        Masa remaja adalah suatu tahap antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-18 tahun (Muchtaromah, 2008) Remaja merupakan fase kehidupan manusia dengan karakter khasnya yang penuh gejolak. Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak, tetapi tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua sehingga masa remaja cenderung diartikan sebagai masa transisi atau peralihan. Transisi ke masa dewasa, bervariasi dari satu budaya kebudayaan lain, namun secara umum didefinisikan sebagai periode dimana individu mulai bertindak terlepas dari orang tua mereka.
    
     Dalam menghadapi remaja ada beberapa hal yang harus selalu di ingat, yaitu bahwa jiwa remaja adalah jiwa yang penuh gejolak (strum und drang) dan bahwa lingkungan sosial remaja juga ditandai dengan perubahan sosial yang cepat (khususnya di kota-kota besar dan daerah-daerah yang sudah terjangkau sarana dan prasarana komunikasi dan perhubungan) yang mengakibatkan kesimpangsiuran norma (keadaan anomie). Kondisi intern dan ekstern yang sama-sama bergejolak inilah yang menyebabkan masa remaja memang lebih rawan daripada tahap-tahap lainnya dalam perkembangan jiwa remaja.
Salah satu contoh masalah remaja yang disebabkan oleh kondisi intern dan ekstern yang bergejolak adalah penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Total jumlah kasus penyalahgunaan narkoba siswa SMP dan SMA di Indonesia sampai dengan tahun 2008 tercatat 110.627 kasus, sementara di tahun 2007 tercatat 110.970 dan tahun 2006 sebanyak 73.253. Dan masih banyak contoh permasalahan lain yang dihadapi remaja baik dari lingkungan luar atau sosial maupun dari dalam dirinya sendiri.
Melalui karya tulis ini kami akan mengemukakan gagasan kami secara tertulis, bagaimana mengatasi konflik yang berasal dari diri remaja maupun dari luar diri remaja agar pada bertumbuh dan berkembang dengan baik.

C.  RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa remaja identik dengan kenakalan? 
2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan banyaknya kenakalan pada usia remaja?
3. Bagaimana mengatasi kenakaln remaja?
D.  TUJUAN PROGRAM
1. Untuk mengetahui mengapa masa remaja identik dengan kenakalan
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kenakalan remaja
3. Untuk mengetahui bagaimana mengatasi kenakalan remaja
  

 e.LUARAN YANG DIHARAPKAN
1. Bagi penulis
Berdasarkan hasil studi pustaka dan analisis, penulis dapat mengetahui perkembangan dunia remaja dan permasalahan-permasalahan yang timbul pada usia remaja
2. Bagi para remaja 
Dapat mengetahui cara mengatasi masalahnya dan dapat mengontrol diri agar dapat berkembang dengan baik. 
3. Bagi Orangtua dan masyarakat
Memberikan wawasan tentang perkembangan dunia remaja dalam kehidupan sehari-hari sehingga remaja tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak benar.
4. Bagi Pemerintah
Dapat dijadikan referensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dan menjadi bahan pertimbangan keputusan untuk membuat kurikulum tambahan tentang fenomena kenakalan remaja demi terciptanya remaja yang unggul.
e.GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
                  Setiap periode mempunyai masalah sendiri-sendiri, namum masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Terdapat dua alasan bagi kesulitan itu, yaitu pertama, sepanjang masaa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru. Karena ketidakmampuan mengatasi masalahnya sendiri menurut cara yang mereka yakini, banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesaiannya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka. Sebab-sebab lainnya yang menimbulkan remaja bermasalah adalah sifat emosional remaja awal. Kemampuan di kuasai oleh emosionalitasnya sehingga kurang mampu mengadakan consensus atau kesepakatan dengan pendapat orang lain yang bertentangan dengan pendapatnya, sehingga masalah yang timbul adakan pertentangan sosial.
Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.
Masa remaja juga dapat disebut masa yang tidak realistik maksudnya adalah bahwa remaja cenderung melihat segala sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan, tidak sebagaimana adanya. Remaja ingin orangtuanya, sahabatnya, gurunya, pacarnya, dan semua yang berhubungan dengan dirinya berjalan sesuai dengan apa yang di inginkannya. Akibatnya, manakala apa yang diinginkan itu tidak menjadi kenyataan atau malah menjadi yang terbalik, ia pun mudah kecewa dan terbawa emosi. Respon remaja saat menghadapi kenyaaan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan inilah yang menambah iventarisasi masalah dari sekian banyak permasalahan tentang remaja.
Adapun masalah yang dihadapi remaja masa kini antara lain :
a. Kebutuhan akan figur teladan
Remaja jauh lebih mudah terkesan akan nilai2 luhur yang berlangsung dari keteladanan orang tua mereka daripada hanya sekedar nasihat2 bagus yagn tinggal hanya kata2 indah.
b. Sikap apatis
Sikap apatis meruapakan kecenderungan untuk menolak sesuatu dan pada saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi di masyarakatnya.
c. Kecemasan dan kurangnya harga diri
Kata stess atau frustasi semakin umum dipakai kalangan remaja. Banyak kaum muda yang mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya).
d. Ketidakmampuan untuk terlibat
Kecenderungan untuk mengintelektualkan segala sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para remaja sulit melibatkan diri secara emosional maupun efektif dalam hubungan pribadi dan dalam kehidupan di masyarakat. Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau malahan dengan uang.
e. Perasaan tidak berdaya
Perasaan tidak berdaya ini muncul pertama-tama karena teknologi semakin menguasai gaya hidup dan pola berpikir masyarakat modern. Teknologi mau tidak mau menciptakan masyarakat teknokratis yang memaksa kita untuk pertama-tama berpikir tentang keselamatan diri kita di tengah2 masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan pintas”, misalnya menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat nilai baik atau ijasah.
f. Pemujaan akan pengalaman
sebagian besar tindakan-tindakan negatif anak muda dengan minumam keras, obat-obatan dan seks pada mulanya berawal dari hanya mencoba-coba. Lingkungan pergaulan anak muda dewasa ini memberikan pandangan yagn keliru tentang pengalaman.
Bentuk-bentuk dari perbuatan yang anti sosial antara lain :
a. Anak-anak muda yang berasal dari golongan orang kaya yang biasanya memakai pakaian yang mewah, hidup hura-hura dengan pergi ke diskotik merupakan gaya hidup mewah yang tidak selaras dengan kebiasaan adat timur.
b. Di sekolah, misalnya dengan melanggar tata tertib sekolah seperti bolos, terlambat masuk kelas, tidak mengerjakan tugas dan lain sebagainya.
c. Ngebut, yaitu mengendarai mobil atau motor ditengah-tengah keramaian kota dengan kecepatan yang melampaui batas maksimum yang dilakukan oleh para pemuda belasan tahun.
d. Membentuk kelompokanak muda yang tingkah lakunya sangant menyimpang dengan norma yang berlaku di masyarakat, seperti tawuran antar kelompok.
Faktor-faktor yang Menyebabkan Banyaknya Masalah pada Usia Remaja:
Munculnya permasalahan-permasalahan pada usia remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
1. Krisis Identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
2. Kontrol Diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
1. Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teman sebaya yang kurang baik
3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
Karakter remaja yang labil dan lingkungannya menyebabkan timbulnya penyimpangan perilaku yang juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan psikologis remaja. Penyimpangan perilaku remaja yang menyebabkan timbulnya masalah pada usia remaja juga terjadi karena interaksi faktor-faktor:
• Predisposisi (kepribadian, kecemasan dan depresi): Kepribadian yang tidak mantap. Ciri kepribadian: gampang kecewa, jadi agresif dan destruktif, rasa rendah diri, senang mencari sensasi, cepat bosan, merasa tertekan, murung dan merasa tidak mampu menjalankan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.
• Kontribusi (keluarga):. Keluarga yang disfungsi sosial ditandai dengan: kesibukan orang tua, hubungan interpersonal yang kurang baik, parental modeling (yang kurang baik).
• Pencetus (kelompok teman sebaya dan zat itu sendiri): Bila remaja khawatir ditolak bergabung dengan kelompok, maka remaja akam berperilaku sesuai dengan perilaku kelompoknya termasuk penggunaan narkoba.

F.METODE PELAKSANAAN PROGRAM
            Kenakalan anak dan remaja merupakan hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam upaya pemecahannya. Tidak mudah untuk mendekati mereka tanpa memahami siapa mereka dan dalam kondisi apa. Jones dan Pritchard (1985) mengemukakan lima model pendekatan untuk memahami remaja, yaitu :
1. Model Konstitusi (Constitutional Model)
Model ini memahami remaja dari perkembangan biologis dan fisiologis. Perkembangan fisik dan biologis yang terlalu dini atau terlalu lambat dapat menimbulkan masalah bagi remaja, terutama dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan. Misalnya anak perempuan terlalu cepat mengalami menstruasi dan mengalami pembesaran buah dada, atau sebaliknya terlambat (sudah lewat masa remaja) belum mengalami masa menstruasi dan buah dadanya masih belum muncul. Hal ini dapat menimbulkan kepanikan, rendah diri, yang akhirnya sulit  berkomunikasi dan tidak dapat menyesuaikan dengan lingkungan. Demikian pula dengan perkembangan biologis dan fisiologis anak laki-laki, misalnya mimpi basah, tumbuh bulu dan lain-lain. Peran orang tua dalam hal ini sangat penting untuk membimbing mempersiapkan berbagai kemungkinan menghadapi perkembangan biologis dan fisiologis. Untuk mencegah hal-hal yang dapat menjurus kepada kenakalan remaja.
           2. Model Krisis Identitas (Identity Crises Model)     
Model ini memahami remaja berdasarkan pemahaman remaja terhadap identitas dan konsep dirinya. Memandang remaja mengalami krisis identitas, belum memiliki kejelasan tentang siapa dirinya, apa potensinya dan apa kekurangannya. Berdasarkan model ini, remaja harus dibantu untuk menjawab pertanyaan siapa saya?, sehingga memperoleh kejelasan tentang konsep diri dan identitas dirinya. Bila tidak, remaja akan mengidentifikasi dan melakukan imitasi identitas orang lain, terutama tokoh idolanya sebagai dirinya. Masalah muncul bila tokoh yang menjadi idolanya adalah tokoh mafia, yang sering digambarkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Bisa-bisa remaja itu ikut melakukan hal-hal yang tidak baik, seperti berkelahi karena merasa kuat dan hebat seperti tokoh yang diidolakannya. Dalam hal ini peran orang tua dan para profesional yang berkepentingan mempunyai tanggung jawab untuk membantu remaja agar memiliki kejelasan terhadap identitas dan konsep dirinya. Dengan demikian,remaja dapat menemukan identitas mereka tanpa harus mendekati kenakalan remaja
3. Model Kebutuhan (Need Model)
                        Mengacu pada teori kebutuhan untuk memahami remaja. Menurut teori kebutuhan Maslow (1970), bila kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman terpenuhi, maka pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lainnya tidak akan banyak menemukan kesulitan yang berarti. Kedua kebutuhan tersebut sangat berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan remaja yang lainnya. Remaja sering menampilkan perilaku kasar bila perutnya lapar, kurang tidur an perasaannya tidak aman. Dalam hal iniorang tua sangat berperanan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan fisiologis dan rasa aman remaja.
4. Model Belajar Sosial (Social Learning Model)
Memandang bahwa remaja sangat sensitive atas model-model perilaku di lingkungannya. Bandura (1970) mengemukakan sebuah teori bahwa apabila seseorang terekspos pada satu model perilaku, kemudianexposure tersebut terjadi berulang-ulang (repetition), maka akan terjadiretention (penyimpanan dalam long-term memory). Bila ini terjadi, maka seseorang tersebut akan mengikuti model perilaku tersebut. Exposure ini biasanya dialami remaja dari media massa terutama televisi atau dari lingkungan sebayanya. Bila model perilaku yang menempa remaja tersebut ternyata dianggap cocok, maka remaja akan mengikuti model perilaku tersebut.  Selain itu, pada saat berkumpul dengan lingkungan kelompoknya, biasanya mereka berperilaku sama, yang sebenarnya merupakan hasil belajar sosial. Masalah muncul apabila model perilaku yang mengeksposnya adalah model perilaku negatif atau menyimpang. Orang tua dan para profesional yang berkepentingan juga mempunyai tanggung jawab dalam hal mencegah tereksposnya remaja pada model-model perilaku negatif atau menyimpang, atau mempersiapkan remaja agar memiliki ketahanan dalam menghadapi pengaruh model-model perilaku tersebut.

5. Model Stress (Stress Model)          
Memandang bahwa setiap orang pasti mengalami stress pada suatu saat. Kemampuan mengatasi stress (Coping Ability) sangat berperanan. Stress yang tidak teratasi akan mengakibatkan kecemasan, baik kecemasan ringan, seperti berkeringat, sampai kecemasan berat seperti psikosomatis. Daya untuk mengatasi atau mengelola stress pada diri remaja perlu dikembangkan. Banyak kasus-kasus kenakalan remaja disebabkan oleh stress dan rendahnya kemampuan untuk mengatasi. Pelatihan-pelatihan untuk mengatasi stress dapat membantu para remaja mengembangkancoping ability.
Beberapa masalah remaja perlu ditangani secara khusus dengan metode yang khusus pula. Metode mendidik remaja adalah dengan:
1. Mengembangkan potensi remaja
2. Memandirikan remaja
3. Memberikan kemampuan untuk beradaptasi dan berperilaku yang diperlukan remaja dalam mengatasi tantangan dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Atas dasar metode ini, dalam menangani permasalahan remaja, perlu dikembangkan pola pendidikan yang berorientasi pada kesehatan psikososial remaja. Kompetensi psikososial adalah seluruh kemampuan yang berorientasi pada aspek kejiwaan seseorang terhadap diri sendiri dan interaksinya dengan orang lain serta lingkungan sekitarnya dalam konteks kesehatan. Kompetensi psikososial tersebut antara lain :
1. Empati, yaitu kemampuan untuk memposisikan perasaan orang lain pada diri sendiri.
2. Kesadaran diri, adalah kemampuan untuk mengenal diri sendiri tentang karakter, kekuatan, kelemahan, keinginan dan tidak keinginan
3. Pengambilan keputusan, adalah kemampuan yang dapat membantu kita untuk mengambil keputusan secara konstruktif dengan membandingkan pilihan alternatif dan efek samping yang menyertainya.
4. Pemecahan masalah, adalah kemampuan untuk memungkinkan kita dapat menyelesaikan masalah secara konstruktif.
5. Berpikir kreatif, yaitu kemampuan unuk menggali alternatif yang ada dan berbagai konsekuensinya dari apa yang kita lakukan.

6. Berpikir kritis, yaitu kemampuan menganalisa informasi dan pengalaman-pengalaman secara objektif.
7. Komunikasi efektif, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri secara verbal maupun non verbal yang mengikuti budaya dan situasi
8. Hubungan interpersonal, yaitu kemampuan yang dapat menolong kita beroteraksi dengan sesama secara positif dan harmonis.
9. Mengatasi emosi, yaitu kemampuan keterlibatan pengenalan emosi dalam diri sendiri dan orang lain.
10. Mengatasi stres, yaitu kemampuan pengenalan sumber-sumber yang menyebabkan stres dalam kehidupan, bagaimana efeknya dan cara mengontrol terhadap derajat stres. keterampilan hidup sehat pada remaja dilakukan dengan:
Penerapan kompetisi psikososial dalam memberikan pendidikan keterampilan hidup sehat pada remaja dilakukan dengan:
Materi kesehatan Psikologis dan Sosial :
• Psikologi remaja
• Bahaya narkoba ditinjau dari aspek hukum dan psikososial
• Pemahaman diri
• Kepribadian dan konsep diri
• Permasalahan yang biasa dialami remaja
• Teknik konseling/terapi psikologis
• Mengatur waktu
• Pergaulan sehat
Metode yang digunakan dalam memperingan penyelesaian masalah remaja antara lain dengan :
• Ceramah
• Curah pendapat
• Diskusi kelompok
• Debat
• Bermain peran
• Simulasi

Upaya yang dilakukan lingkungan pendidikan dalam mengatasi permasalahan remaja adalah dengan ditetapkan dan dilaksanakannya beberapa kebijakan sebagai berikut:
• Menetapkan sekolah sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR) melalui Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 4/U/1997
• Peningkatan penanggulangan penyalahgunaan narkoba di kalangan ysiswa dan mahasiswa dilakukan oleh kepala sekolah/rektor dengan cara mencegah melalui berbagai aktifitas dan kreativitas siswa
• Pemberian materi bahaya penyalahgunaan narkoba pada setiap penataran/pelatihan guru mata pelajaran apapun di tingkat SMP/SMA
• Sekolah diharapkan dapat melakukan berbagai kegiatan ekstrakurikuler untuk menghindarkan siswa dari perilaku menyimpang.
• Mengembangkan program life skills education, atau keterampilan psikososial untuk mencegah penyalahgunaan narkoba. Pengembangan perilaku hidup sehat, sikap asertif, kemampuan membuat keputusan, berpikir kritis, perlu dimiliki oleh peserta didik.
• Menghimbau kepada seluruh sekolah/perguruan tinggi untuk melaksanakan upaya-upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dan seks karena Setiap tahun di dunia ini kira-kira 15 juta remaja berusia 15 – 19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta terinfeksi Penyakit Menular Seksual yang bisa disembuhkan. Perkiraan terakhir, setiap hari ada 7.000 remaja terinfeksi HIV.
G.PENUTUP
           Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Masa remaja adalah masa yang sulit. Remaja mengalami kesulitan dengan dirinya sendiri, dan mereka juga mengalami kesulitan dengan orangtua. Mereka mengalami kesulitan dengan guru, dan mereka juga mengalami kesulitan dengan orang dewasa lainnya, yang tugasnya adalah melatih, mendidik, membimbing serta mengarahkan mereka Remaja cenderung berenerji tinggi, tidak stabil, senantiasa berubah, mengukur segalanya dengan ukuran diri sendiri. Tidak logis dan umumnya mempunyai perangai berontak. Maka dari itu dapat dikatakan masa remaja sebagai usia yang bermasalah.
2. Munculnya permasalahan-permasalahan pada usia remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
3. Cara mengatasi masalah-masalah yang timbul pada usia remaja
• Memahami sikap dan tingkah laku remaja dan menghadapinya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.
• Memberikan perhatian yang cukup baik dalam segi material, emosional, intelektual, dan sosial.
• Memberikan kebebasan dan keteraturan serta secara bersamaan pengarahan terhadap sikap, perasaan dan pendapat remaja
• Menciptakan suasana rumah tangga/keluarga yang harmonis, intim, dan penuh kehangatan bagi remaja.
• Memberikan penghargaan yang layak terhadap pendapat dan prestasi yang baik.
• Memberikan teladan yang baik kepada remaja tentang apa yang baik bagi remaja.
• Tidak mengharapkan remaja melakukan sesuatu yang ia tidak mampu atau orang tua tidak melaksanakannya (panutan dan keteladanan).





















 PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA
JUDUL PKM:
”SOSIOLOGI DALAM MENCEGAH KENAKALAN REMAJA            “
BIDANG KEGIATAN:
PKM-GT(GAGASAN TERTULIS)
DIUSULKAN OLEH :
KELOMPOK 1(EKSTENSI A)
*   AHMAD ARFAH FANSURY               :      3123311002
*   AHMAD FAISAL                               :      3123311003
*   AHMAD SHOLEH                             :      3123311004
*   BERMA M SIAGIAN             :      3123311006
*   DESI PURWASI                             :      3123311008
*   DEWI NURITA                                :      3123311010
DOSEN PEMBIMBING :HODRIANI,S.Sos,M.Si
UNIMED
FAKULTAS ILMU SOSIAL
PPKN 2012/2013
PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA

A. JUDUL

Sosiologi dalam mencegah kenakalan remaja

B.  LATAR BELAKANG

        Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Pernyataan ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
        Masa remaja adalah suatu tahap antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Menurut definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), remaja (adolescence) adalah mereka yang berusia 10-18 tahun (Muchtaromah, 2008) Remaja merupakan fase kehidupan manusia dengan karakter khasnya yang penuh gejolak. Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Ia tidak termasuk golongan anak, tetapi tidak pula termasuk golongan orang dewasa atau golongan tua sehingga masa remaja cenderung diartikan sebagai masa transisi atau peralihan. Transisi ke masa dewasa, bervariasi dari satu budaya kebudayaan lain, namun secara umum didefinisikan sebagai periode dimana individu mulai bertindak terlepas dari orang tua mereka.
    
     Dalam menghadapi remaja ada beberapa hal yang harus selalu di ingat, yaitu bahwa jiwa remaja adalah jiwa yang penuh gejolak (strum und drang) dan bahwa lingkungan sosial remaja juga ditandai dengan perubahan sosial yang cepat (khususnya di kota-kota besar dan daerah-daerah yang sudah terjangkau sarana dan prasarana komunikasi dan perhubungan) yang mengakibatkan kesimpangsiuran norma (keadaan anomie). Kondisi intern dan ekstern yang sama-sama bergejolak inilah yang menyebabkan masa remaja memang lebih rawan daripada tahap-tahap lainnya dalam perkembangan jiwa remaja.
Salah satu contoh masalah remaja yang disebabkan oleh kondisi intern dan ekstern yang bergejolak adalah penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja. Total jumlah kasus penyalahgunaan narkoba siswa SMP dan SMA di Indonesia sampai dengan tahun 2008 tercatat 110.627 kasus, sementara di tahun 2007 tercatat 110.970 dan tahun 2006 sebanyak 73.253. Dan masih banyak contoh permasalahan lain yang dihadapi remaja baik dari lingkungan luar atau sosial maupun dari dalam dirinya sendiri.
Melalui karya tulis ini kami akan mengemukakan gagasan kami secara tertulis, bagaimana mengatasi konflik yang berasal dari diri remaja maupun dari luar diri remaja agar pada bertumbuh dan berkembang dengan baik.

C.  RUMUSAN MASALAH
1. Mengapa remaja identik dengan kenakalan? 
2. Faktor-faktor apakah yang menyebabkan banyaknya kenakalan pada usia remaja?
3. Bagaimana mengatasi kenakaln remaja?
D.  TUJUAN PROGRAM
1. Untuk mengetahui mengapa masa remaja identik dengan kenakalan
2. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan kenakalan remaja
3. Untuk mengetahui bagaimana mengatasi kenakalan remaja
  

 e.LUARAN YANG DIHARAPKAN
1. Bagi penulis
Berdasarkan hasil studi pustaka dan analisis, penulis dapat mengetahui perkembangan dunia remaja dan permasalahan-permasalahan yang timbul pada usia remaja
2. Bagi para remaja 
Dapat mengetahui cara mengatasi masalahnya dan dapat mengontrol diri agar dapat berkembang dengan baik. 
3. Bagi Orangtua dan masyarakat
Memberikan wawasan tentang perkembangan dunia remaja dalam kehidupan sehari-hari sehingga remaja tidak terjerumus dalam hal-hal yang tidak benar.
4. Bagi Pemerintah
Dapat dijadikan referensi untuk dilakukan penelitian lebih lanjut dan menjadi bahan pertimbangan keputusan untuk membuat kurikulum tambahan tentang fenomena kenakalan remaja demi terciptanya remaja yang unggul.
e.GAMBARAN UMUM MASYARAKAT SASARAN
                  Setiap periode mempunyai masalah sendiri-sendiri, namum masalah masa remaja sering menjadi masalah yang sulit diatasi baik oleh anak laki-laki maupun anak perempuan. Terdapat dua alasan bagi kesulitan itu, yaitu pertama, sepanjang masaa kanak-kanak, masalah anak-anak sebagian diselesaikan oleh orang tua dan guru-guru, sehingga kebanyakan remaja tidak berpengalaman dalam mengatasi masalah. Kedua, karena para remaja merasa diri mandiri, sehingga mereka ingin mengatasi masalahnya sendiri, menolak bantuan orang tua dan guru-guru. Karena ketidakmampuan mengatasi masalahnya sendiri menurut cara yang mereka yakini, banyak remaja akhirnya menemukan bahwa penyelesaiannya tidak selalu sesuai dengan harapan mereka. Sebab-sebab lainnya yang menimbulkan remaja bermasalah adalah sifat emosional remaja awal. Kemampuan di kuasai oleh emosionalitasnya sehingga kurang mampu mengadakan consensus atau kesepakatan dengan pendapat orang lain yang bertentangan dengan pendapatnya, sehingga masalah yang timbul adakan pertentangan sosial.
Masa remaja disebut juga masa untuk menemukan identitas diri (self identity). Usaha pencarian identitas pun, banyak dilakukan dengan menunjukkan perilaku coba-coba, perilaku imitasi atau identifikasi. Ketika remaja gagal menemukan identitas dirinya, dia akan mengalami krisis identitas atau identity confusion, sehingga mungkin saja akan terbentuk sistem kepribadian yang bukan menggambarkan keadaan diri yang sebenarnya. Reaksi-reaksi dan ekspresi emosional yang masih labil dan belum terkendali pada masa remaja dapat berdampak pada kehidupan pribadi maupun sosialnya. Dia menjadi sering merasa tertekan dan bermuram durja atau justru dia menjadi orang yang berperilaku agresif. Pertengkaran dan perkelahian seringkali terjadi akibat dari ketidakstabilan emosinya.
Masa remaja juga dapat disebut masa yang tidak realistik maksudnya adalah bahwa remaja cenderung melihat segala sesuatu sesuai dengan apa yang diinginkan, tidak sebagaimana adanya. Remaja ingin orangtuanya, sahabatnya, gurunya, pacarnya, dan semua yang berhubungan dengan dirinya berjalan sesuai dengan apa yang di inginkannya. Akibatnya, manakala apa yang diinginkan itu tidak menjadi kenyataan atau malah menjadi yang terbalik, ia pun mudah kecewa dan terbawa emosi. Respon remaja saat menghadapi kenyaaan yang tidak sesuai dengan apa yang diinginkan inilah yang menambah iventarisasi masalah dari sekian banyak permasalahan tentang remaja.
Adapun masalah yang dihadapi remaja masa kini antara lain :
a. Kebutuhan akan figur teladan
Remaja jauh lebih mudah terkesan akan nilai2 luhur yang berlangsung dari keteladanan orang tua mereka daripada hanya sekedar nasihat2 bagus yagn tinggal hanya kata2 indah.
b. Sikap apatis
Sikap apatis meruapakan kecenderungan untuk menolak sesuatu dan pada saat yang bersamaan tidak mau melibatkan diri di dalamnya. Sikap apatis ini terwujud di dalam ketidakacuhannya akan apa yang terjadi di masyarakatnya.
c. Kecemasan dan kurangnya harga diri
Kata stess atau frustasi semakin umum dipakai kalangan remaja. Banyak kaum muda yang mencoba mengatasi rasa cemasnya dalam bentuk “pelarian” (memburu kenikmatan lewat minuman keras, obat penenang, seks dan lainnya).
d. Ketidakmampuan untuk terlibat
Kecenderungan untuk mengintelektualkan segala sesuatu dan pola pikir ekonomis, membuat para remaja sulit melibatkan diri secara emosional maupun efektif dalam hubungan pribadi dan dalam kehidupan di masyarakat. Persahabatan dinilai dengan untung rugi atau malahan dengan uang.
e. Perasaan tidak berdaya
Perasaan tidak berdaya ini muncul pertama-tama karena teknologi semakin menguasai gaya hidup dan pola berpikir masyarakat modern. Teknologi mau tidak mau menciptakan masyarakat teknokratis yang memaksa kita untuk pertama-tama berpikir tentang keselamatan diri kita di tengah2 masyarakat. Lebih jauh remaja mencari “jalan pintas”, misalnya menggunakan segala cara untuk tidak belajar tetapi mendapat nilai baik atau ijasah.
f. Pemujaan akan pengalaman
sebagian besar tindakan-tindakan negatif anak muda dengan minumam keras, obat-obatan dan seks pada mulanya berawal dari hanya mencoba-coba. Lingkungan pergaulan anak muda dewasa ini memberikan pandangan yagn keliru tentang pengalaman.
Bentuk-bentuk dari perbuatan yang anti sosial antara lain :
a. Anak-anak muda yang berasal dari golongan orang kaya yang biasanya memakai pakaian yang mewah, hidup hura-hura dengan pergi ke diskotik merupakan gaya hidup mewah yang tidak selaras dengan kebiasaan adat timur.
b. Di sekolah, misalnya dengan melanggar tata tertib sekolah seperti bolos, terlambat masuk kelas, tidak mengerjakan tugas dan lain sebagainya.
c. Ngebut, yaitu mengendarai mobil atau motor ditengah-tengah keramaian kota dengan kecepatan yang melampaui batas maksimum yang dilakukan oleh para pemuda belasan tahun.
d. Membentuk kelompokanak muda yang tingkah lakunya sangant menyimpang dengan norma yang berlaku di masyarakat, seperti tawuran antar kelompok.
Faktor-faktor yang Menyebabkan Banyaknya Masalah pada Usia Remaja:
Munculnya permasalahan-permasalahan pada usia remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
Faktor internal:
1. Krisis Identitas
Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.
2. Kontrol Diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
1. Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2. Teman sebaya yang kurang baik
3. Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik.
Karakter remaja yang labil dan lingkungannya menyebabkan timbulnya penyimpangan perilaku yang juga berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan psikologis remaja. Penyimpangan perilaku remaja yang menyebabkan timbulnya masalah pada usia remaja juga terjadi karena interaksi faktor-faktor:
• Predisposisi (kepribadian, kecemasan dan depresi): Kepribadian yang tidak mantap. Ciri kepribadian: gampang kecewa, jadi agresif dan destruktif, rasa rendah diri, senang mencari sensasi, cepat bosan, merasa tertekan, murung dan merasa tidak mampu menjalankan fungsinya dalam kehidupan sehari-hari.
• Kontribusi (keluarga):. Keluarga yang disfungsi sosial ditandai dengan: kesibukan orang tua, hubungan interpersonal yang kurang baik, parental modeling (yang kurang baik).
• Pencetus (kelompok teman sebaya dan zat itu sendiri): Bila remaja khawatir ditolak bergabung dengan kelompok, maka remaja akam berperilaku sesuai dengan perilaku kelompoknya termasuk penggunaan narkoba.

F.METODE PELAKSANAAN PROGRAM
            Kenakalan anak dan remaja merupakan hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam upaya pemecahannya. Tidak mudah untuk mendekati mereka tanpa memahami siapa mereka dan dalam kondisi apa. Jones dan Pritchard (1985) mengemukakan lima model pendekatan untuk memahami remaja, yaitu :
1. Model Konstitusi (Constitutional Model)
Model ini memahami remaja dari perkembangan biologis dan fisiologis. Perkembangan fisik dan biologis yang terlalu dini atau terlalu lambat dapat menimbulkan masalah bagi remaja, terutama dalam menyesuaikan dirinya dengan lingkungan. Misalnya anak perempuan terlalu cepat mengalami menstruasi dan mengalami pembesaran buah dada, atau sebaliknya terlambat (sudah lewat masa remaja) belum mengalami masa menstruasi dan buah dadanya masih belum muncul. Hal ini dapat menimbulkan kepanikan, rendah diri, yang akhirnya sulit  berkomunikasi dan tidak dapat menyesuaikan dengan lingkungan. Demikian pula dengan perkembangan biologis dan fisiologis anak laki-laki, misalnya mimpi basah, tumbuh bulu dan lain-lain. Peran orang tua dalam hal ini sangat penting untuk membimbing mempersiapkan berbagai kemungkinan menghadapi perkembangan biologis dan fisiologis. Untuk mencegah hal-hal yang dapat menjurus kepada kenakalan remaja.
           2. Model Krisis Identitas (Identity Crises Model)     
Model ini memahami remaja berdasarkan pemahaman remaja terhadap identitas dan konsep dirinya. Memandang remaja mengalami krisis identitas, belum memiliki kejelasan tentang siapa dirinya, apa potensinya dan apa kekurangannya. Berdasarkan model ini, remaja harus dibantu untuk menjawab pertanyaan siapa saya?, sehingga memperoleh kejelasan tentang konsep diri dan identitas dirinya. Bila tidak, remaja akan mengidentifikasi dan melakukan imitasi identitas orang lain, terutama tokoh idolanya sebagai dirinya. Masalah muncul bila tokoh yang menjadi idolanya adalah tokoh mafia, yang sering digambarkan sebagai pembunuh berdarah dingin. Bisa-bisa remaja itu ikut melakukan hal-hal yang tidak baik, seperti berkelahi karena merasa kuat dan hebat seperti tokoh yang diidolakannya. Dalam hal ini peran orang tua dan para profesional yang berkepentingan mempunyai tanggung jawab untuk membantu remaja agar memiliki kejelasan terhadap identitas dan konsep dirinya. Dengan demikian,remaja dapat menemukan identitas mereka tanpa harus mendekati kenakalan remaja
3. Model Kebutuhan (Need Model)
                        Mengacu pada teori kebutuhan untuk memahami remaja. Menurut teori kebutuhan Maslow (1970), bila kebutuhan fisiologis dan kebutuhan akan rasa aman terpenuhi, maka pemenuhan kebutuhan-kebutuhan lainnya tidak akan banyak menemukan kesulitan yang berarti. Kedua kebutuhan tersebut sangat berpengaruh pada pemenuhan kebutuhan-kebutuhan remaja yang lainnya. Remaja sering menampilkan perilaku kasar bila perutnya lapar, kurang tidur an perasaannya tidak aman. Dalam hal iniorang tua sangat berperanan untuk menjamin pemenuhan kebutuhan fisiologis dan rasa aman remaja.
4. Model Belajar Sosial (Social Learning Model)
Memandang bahwa remaja sangat sensitive atas model-model perilaku di lingkungannya. Bandura (1970) mengemukakan sebuah teori bahwa apabila seseorang terekspos pada satu model perilaku, kemudianexposure tersebut terjadi berulang-ulang (repetition), maka akan terjadiretention (penyimpanan dalam long-term memory). Bila ini terjadi, maka seseorang tersebut akan mengikuti model perilaku tersebut. Exposure ini biasanya dialami remaja dari media massa terutama televisi atau dari lingkungan sebayanya. Bila model perilaku yang menempa remaja tersebut ternyata dianggap cocok, maka remaja akan mengikuti model perilaku tersebut.  Selain itu, pada saat berkumpul dengan lingkungan kelompoknya, biasanya mereka berperilaku sama, yang sebenarnya merupakan hasil belajar sosial. Masalah muncul apabila model perilaku yang mengeksposnya adalah model perilaku negatif atau menyimpang. Orang tua dan para profesional yang berkepentingan juga mempunyai tanggung jawab dalam hal mencegah tereksposnya remaja pada model-model perilaku negatif atau menyimpang, atau mempersiapkan remaja agar memiliki ketahanan dalam menghadapi pengaruh model-model perilaku tersebut.

5. Model Stress (Stress Model)          
Memandang bahwa setiap orang pasti mengalami stress pada suatu saat. Kemampuan mengatasi stress (Coping Ability) sangat berperanan. Stress yang tidak teratasi akan mengakibatkan kecemasan, baik kecemasan ringan, seperti berkeringat, sampai kecemasan berat seperti psikosomatis. Daya untuk mengatasi atau mengelola stress pada diri remaja perlu dikembangkan. Banyak kasus-kasus kenakalan remaja disebabkan oleh stress dan rendahnya kemampuan untuk mengatasi. Pelatihan-pelatihan untuk mengatasi stress dapat membantu para remaja mengembangkancoping ability.
Beberapa masalah remaja perlu ditangani secara khusus dengan metode yang khusus pula. Metode mendidik remaja adalah dengan:
1. Mengembangkan potensi remaja
2. Memandirikan remaja
3. Memberikan kemampuan untuk beradaptasi dan berperilaku yang diperlukan remaja dalam mengatasi tantangan dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Atas dasar metode ini, dalam menangani permasalahan remaja, perlu dikembangkan pola pendidikan yang berorientasi pada kesehatan psikososial remaja. Kompetensi psikososial adalah seluruh kemampuan yang berorientasi pada aspek kejiwaan seseorang terhadap diri sendiri dan interaksinya dengan orang lain serta lingkungan sekitarnya dalam konteks kesehatan. Kompetensi psikososial tersebut antara lain :
1. Empati, yaitu kemampuan untuk memposisikan perasaan orang lain pada diri sendiri.
2. Kesadaran diri, adalah kemampuan untuk mengenal diri sendiri tentang karakter, kekuatan, kelemahan, keinginan dan tidak keinginan
3. Pengambilan keputusan, adalah kemampuan yang dapat membantu kita untuk mengambil keputusan secara konstruktif dengan membandingkan pilihan alternatif dan efek samping yang menyertainya.
4. Pemecahan masalah, adalah kemampuan untuk memungkinkan kita dapat menyelesaikan masalah secara konstruktif.
5. Berpikir kreatif, yaitu kemampuan unuk menggali alternatif yang ada dan berbagai konsekuensinya dari apa yang kita lakukan.

6. Berpikir kritis, yaitu kemampuan menganalisa informasi dan pengalaman-pengalaman secara objektif.
7. Komunikasi efektif, yaitu kemampuan untuk mengekspresikan diri secara verbal maupun non verbal yang mengikuti budaya dan situasi
8. Hubungan interpersonal, yaitu kemampuan yang dapat menolong kita beroteraksi dengan sesama secara positif dan harmonis.
9. Mengatasi emosi, yaitu kemampuan keterlibatan pengenalan emosi dalam diri sendiri dan orang lain.
10. Mengatasi stres, yaitu kemampuan pengenalan sumber-sumber yang menyebabkan stres dalam kehidupan, bagaimana efeknya dan cara mengontrol terhadap derajat stres. keterampilan hidup sehat pada remaja dilakukan dengan:
Penerapan kompetisi psikososial dalam memberikan pendidikan keterampilan hidup sehat pada remaja dilakukan dengan:
Materi kesehatan Psikologis dan Sosial :
• Psikologi remaja
• Bahaya narkoba ditinjau dari aspek hukum dan psikososial
• Pemahaman diri
• Kepribadian dan konsep diri
• Permasalahan yang biasa dialami remaja
• Teknik konseling/terapi psikologis
• Mengatur waktu
• Pergaulan sehat
Metode yang digunakan dalam memperingan penyelesaian masalah remaja antara lain dengan :
• Ceramah
• Curah pendapat
• Diskusi kelompok
• Debat
• Bermain peran
• Simulasi

Upaya yang dilakukan lingkungan pendidikan dalam mengatasi permasalahan remaja adalah dengan ditetapkan dan dilaksanakannya beberapa kebijakan sebagai berikut:
• Menetapkan sekolah sebagai Kawasan Tanpa Rokok (KTR) melalui Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 4/U/1997
• Peningkatan penanggulangan penyalahgunaan narkoba di kalangan ysiswa dan mahasiswa dilakukan oleh kepala sekolah/rektor dengan cara mencegah melalui berbagai aktifitas dan kreativitas siswa
• Pemberian materi bahaya penyalahgunaan narkoba pada setiap penataran/pelatihan guru mata pelajaran apapun di tingkat SMP/SMA
• Sekolah diharapkan dapat melakukan berbagai kegiatan ekstrakurikuler untuk menghindarkan siswa dari perilaku menyimpang.
• Mengembangkan program life skills education, atau keterampilan psikososial untuk mencegah penyalahgunaan narkoba. Pengembangan perilaku hidup sehat, sikap asertif, kemampuan membuat keputusan, berpikir kritis, perlu dimiliki oleh peserta didik.
• Menghimbau kepada seluruh sekolah/perguruan tinggi untuk melaksanakan upaya-upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dan seks karena Setiap tahun di dunia ini kira-kira 15 juta remaja berusia 15 – 19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi, dan hampir 100 juta terinfeksi Penyakit Menular Seksual yang bisa disembuhkan. Perkiraan terakhir, setiap hari ada 7.000 remaja terinfeksi HIV.
G.PENUTUP
           Berdasarkan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Masa remaja adalah masa yang sulit. Remaja mengalami kesulitan dengan dirinya sendiri, dan mereka juga mengalami kesulitan dengan orangtua. Mereka mengalami kesulitan dengan guru, dan mereka juga mengalami kesulitan dengan orang dewasa lainnya, yang tugasnya adalah melatih, mendidik, membimbing serta mengarahkan mereka Remaja cenderung berenerji tinggi, tidak stabil, senantiasa berubah, mengukur segalanya dengan ukuran diri sendiri. Tidak logis dan umumnya mempunyai perangai berontak. Maka dari itu dapat dikatakan masa remaja sebagai usia yang bermasalah.
2. Munculnya permasalahan-permasalahan pada usia remaja bisa disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari luar (eksternal).
3. Cara mengatasi masalah-masalah yang timbul pada usia remaja
• Memahami sikap dan tingkah laku remaja dan menghadapinya dengan penuh kasih sayang dan kesabaran.
• Memberikan perhatian yang cukup baik dalam segi material, emosional, intelektual, dan sosial.
• Memberikan kebebasan dan keteraturan serta secara bersamaan pengarahan terhadap sikap, perasaan dan pendapat remaja
• Menciptakan suasana rumah tangga/keluarga yang harmonis, intim, dan penuh kehangatan bagi remaja.
• Memberikan penghargaan yang layak terhadap pendapat dan prestasi yang baik.
• Memberikan teladan yang baik kepada remaja tentang apa yang baik bagi remaja.
• Tidak mengharapkan remaja melakukan sesuatu yang ia tidak mampu atau orang tua tidak melaksanakannya (panutan dan keteladanan).